16 September 2009 | 14:04 wib

Memaknai Kemerdekaan Indonesia

PRESIDEN pertama RI Bung Karno, dalam pidatonya berjudul "Res Publica" di depan Sidang Pleno Konstituante pada 22 April 1959, mengajak untuk kembali ke UUD 1945. "Kita bertanya, mengapa kemerosotan, mengapa disintegrasi, mengapa afglijdingsperoces" itu berjalan terus di semua lapangan di bidang politik, militer dan sosial ekonomi? .Jawabnya tak lain ialah karena kita nyeleweng.

Nyeleweng di semua lapangan. Nyeleweng di semua bidang dari jiwa dan semangat UUD Proklamasi 17 Agustus 1945. Kita bersalah mulai memandang UUD 1945 itu sebagai dokumen yang mempunyai arti historis belaka. Kita bersalah memproklamasikan Proklamasi kemerdekaan Indonesia, dengan memperingatinya tiap-tiap tahun tanggal 17 Agustus secara adat kebiasaan atau sleur belaka, " demikian Bung Karno

Sebagai salah satu pelaku sejarah, Bung Karno memahami betul proses terwujudnya Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 berdasarkan UUD 1945. Itulah sebabnya, wajar jika selalu mengingatkan akan makna pentingnya jiwa dan semangat yang melatarbelakangi lahirnya UUD 1945.

Apakah dasar-dasar penyelenggara pemerintahan negara yang tertuang datam Pembukaan UUD 1945 itu Pancasila? Menurut Bung Hatta --salah seorang Proklamator disamping Bung Karno --, maka jawabnya betul.

Jawaban itu terabadikan dalam artikelnya berjudul "Demokrasi Kita". Ditegaskan, "jika diperhatikan benar-benar, Pancasila itu terdiri atas dua fondamen. Pertama, fondamen moral yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, fondamen politik yaitu perikemanusiaan, persatuan Indonesia, demokrasi dan keadilan sosial. Dengan politik pemerintahan yang berdasarkan kepada moral yang tinggi diharapkan tercapainya -seperti tertulis di dalam Pembukaan itu- "suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. "

Menurut hemat penulis, budaya menegakkan kebaikan, kejujuran, keadilan, kebenaran dan persaudaraan berlandaskan moral Ketuhanan - tanpa dikaitkan dengan agama tertentu- itulah esensi atau hakikat dari Pancasila.

"Maka dari itu, jika bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realitet, yakni jika kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationalitet yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan socialerechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan Ketuhanan yang luas dan sempurna - janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya ialah perjuangan," demikian Bung Karno dalam "Lahirnya Pancasila."

Makna Peringatan

Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan akan lebih bermakna manakala kegiatannya dimulai dari tanggal 29 Mei, saat dibukannya Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Lantas, 1 Juni Bung Karno menyampaikan dasar Indonesia Merdeka berupa ideologi negara Pancasila. Setelah itu terjadinya kompromi antara faham Islam dengan faham kebangsaan berupa "Piagam Jakarta" yang oleh Panitia Sembilan (diketuai Bung Karno) ditandatangani 22 Juni 1945.

Lalu, terjadinya perdebatan mengenai munculnya "Piagam Jakarta" pada Sidang Pleno BPUPKI pada 14 7uli 1945. Kemudian, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Terakhir adalah peranan Bung Hatta sebagai Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indoesia (PPKI) menjelang berlangsungnya Sidang Pertama PPKI 18 Agustus 1945 dalam memelopori penghapusan "tujuh buah kata" di belakang dasar Ketuhanan. Sejalan dengan itu disahkanlah UUD 1945.

Apa makna yang bisa dipetik di balik serangkaian peringatan HUT Kemerdekaan? Hal itu mengingatkan "Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 berdasarkan UUD 1945" tidak lahir karena perjuangan seorang atau sesuatu golongan saja. Tapi berkat pengamalan dan penghayatan budi luhur yang bertumpu pada moral Ketuhanan oleh pendiri negara selaku wakil-wakil Bangsa Indonesia tanpa mengenal suku, agama maupun golongan.

Di tengah derasnya arus demokratisasi, kita sependapat perlunya merapatkan barisan dan kerja keras membangun "modal sosial" berlandaskan kecerdasan budaya. Sasarannya agar mampu menjawab dinamika tantangan zaman pada masa mendatang yang multikompleks.(11)

--- Amat Iskandar, sekretaris umum Dewan Pimpinan Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan (DHD BPK) 45 Prov Jawa Tengah

Sumber : Suaramerdeka.com